Tuesday, March 21, 2017

POTENSI EKOWISATA

 POTENSI EKOWISATA DI PULAU LOMBOK

ATRAKSI
Bau Nyale merupakan tradisi suku sasak yang tinggal di Lombok Selatan sepanjang pantai selatan pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kata sasak itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta, sahsaka. Sah artinya pergi, saka artinya asal. Sahsaka artinya pergi meninggalkan tanah asal, dan mengumpul di pulau Lombok dengan memakai rakit bambu sebagai kendaraan
Bau Nyale merupakan suatu tradisi menangkap nyale yang dilakukan oleh suku sasak setiap setahun. Bau Nyale berasal dari bahasa sasak, yaitu dari kata Bau yang berarti menangkap dan Nyale yang berarti sejenis cacing laut. Nyale termasuk kedalam kelas Polichaeta dari filum Annelida. Polichaeta adalah cacing bersegmen yang memiliki banyak rambut (secara etimologis, poly berarti banyak; chaeta berarti struktur serupa rambut) di sekujur tubuhnya . Polichaeta biasanya hidup menempel pada sedimen atau menempel pada permukaan keras (bentik), sedangkan larva bersifat planktonik.
Nyale ini ditangkap oleh suku sasak untuk dikonsumsi saat swarming. Fenomena swarming merupakan peristiwa ketika cacing laut dari jenis tertentu berkerumun dalam jumlah melimpah di sekitar permukaan air untuk melakukan perkawinan secara eksternal . Polichaeta muncul ke permukaan air pada saat-saat tertentu (menjelang waktu shubuh hingga fajar menyingsing Lombok dan Sumba; menjelang waktru maghrib hingga sekita 2-3 jam setelah di daerah Maluku). Polichaeta berenang ke permukaan air laut untuk melepaskan telur dan spermanya. Pada saat itulah masyarakat menangkap cacing laut tersebut dan hingga kini menjadi sebuah tradisi dari suku sasak.
Selain di Lombok, fenomena swarming terjadi pada kawasan Indonesia Timur lain, yaitu perairan Maluku dan Sumba. Apabila di Lombok, cacing laut Polichaeta disebut sebagai Nyale, di daerah Maluku dan Sumba, cacing laut ini disebut dengan nama Laor dan Palolo dengan jenis cacing yang berbeda (Tabel 1).
Tabel 1. Perbandingan swarming cacing laut Polichaeta di beberapa daerah di Indonesia Timur
Daerah Perairan    Jenis Cacing    Nama Lokal    Waktu Pemunculan
Lombok    Eunice siciliensis danLicydice collaris    Nyale    Antara waktu shubuh hingga fajar menyingsing
Maluku    Lysidice oele danDendronereides heteropoda    Laor    Mulai waktu maghrib hingga 2-3 jam setelahnya.
Sumba    Eunice viridis    Palolo    Antara waktu shubuh hingga fajar menyingsing

Tradisi Bau Nyale diadakan setahun sekali dan dijadwalkan setiap bulan Febuari-Maret. Kegiatan tradisi ini dipusatkan di dua kabupaten, yakni Lombok Tengah, tepatnya di Desa Kuta dan Seger, serta Lombok Timur, tepatnya di Desa Kaliantan dan Jerowaru . Alat yang digunakan untuk menangkap nyale adalah alat penangkap (jaring) dan wadah. Untuk menangkap nyale dapat juga menggunakan tangan. Untuk mendapatkan nyale yang lebih banyak dapat juga menggunakan sampan. Dengan sampan maka dapat menangkap nyale sampai jauh ketengah. Bagi mereka yang datang dari jauh harus membawa bekal, karena menangkap nyale membutuhkan waktu sekurang-kurangnya satu malam .

    Tradisi ini merupakan suatu kejadian yang dikaitkan dengan budaya. Konon, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Lombok, ada seorang putri bernama Putri Mandalika yang karena kecantikannya banyak raja ingin mempersuntingnya menjadi permausuri. Putri Mandalika tidak bisa menentukan pilihan. Jika ia hanya memilih satu orang, akan terjadi peperangan. Dan karena putri arif dan bijak ini tidak menghendaki terjadinya peperangan karena rakyat juga yang akan menjadi korbannya. Ia menceburkan diri ke laut sambil berharap jelmaan dirinya bisa dimiliki banyak orang. Diyakini Putri Mandalika lah yang menjelma menjadi cacing laut berwarna-warni. Penjelmaan Putri Mandalika inilah yang oleh masyarakat Lombok dinamakan nyale
Upacara penangkapan nyale dapat dibedakan menjadi dua yaitu: dilihat dari waktu penangkapannya dan dilihat dari bulan keluarnya. Dilihat dari waktu penangkapannya, dapat dibedakan atas “jelo bojag” (hari percobaan) dan “jelo tumpah” (hari keluarnya). Masing-masing jatuh pada tanggal 19 dan tanggal 20 bulan kesepuluh (sekitar bulan maret). Bulan keluarnya nyale, disebut “nyale tunggak” (Bahasa Indonesia, nyale pokok) dan ”nyale poto” (Bahasa Indonesia; nyale ujung/nyale akhir. Nyale tunggak adalah nyale yang keluar pada tanggal 19 dan 20 bulan kesepuluh, dan nyale poto adalah nyale yang keluar pada tanggal 19 dan 20 bulan kesebelas. Sesuai dengan namanya, kebanyakan nyale keluar pada waktu nyale tunggak. Maka tak heran kalau kebanyakan masyarakat menangkap nyale pada bulan kesepuluh .
Pada saat penangkapan Nyale, penduduk akan menyorotkan senter ke arah perairan yang diyakini bisa menarik Nyale ke arah tepi perairan. Secara ilmiah, dapat dijelaskan bahwa cahaya merupakan unsur penarik kehadiran cacing ini karena bagian epitoke dari cacing laut Polichaeta bersifat fototropik positif). Selain itu, penduduk akan berteriak semaunya seperti “jabut jantar bulum pepeq’n edara eberu”. Menurut kepercayan mereka, hal tersebut merangsang nyale supaya lebih banyak keluar dari lubangnya. Hal tersebut sesuai dengan legenda putri Eberu, yang menjelma jadi Nyale .
Perayaan Bau Nyale dilakukan untuk mengenang dan merayakan peristiwa putri Mandalika yang menceburkan dirinya untuk kepentingan rakyat banyak. Namun makna tersebut telah sedikit bergeser dari makna ”enkulturasi”. Kaum muda-mudi yang merayakan pesta rakyat itu di masa lampau dengan diwarnai api unggun dan dikelilingi para pemmuda-pemudi yang didampingi beberapa orangtua mereka. Duduk mengelilingi api unggun disertai berbalas pantun (dalam bahasa Sasak disebut bekayaq) yang berisi sekitar perkenalan, merajuk isi hati masing-masing atau ungkapan perpisahan.Di kalangan suami istri pun merupakan momen nostalgia bersama anak-anak mereka dalam suasana kegembiraan. Namun sekarang tradisi Bau Nyale mulai bergeser dari keaslian maknanya dan direkayasa untuk kepentingan pariwisata.


TRANSPORTASI
Adapun transportasi yang dapat digunakan oleh wisatawan yaitu: dengan kendaraan beroda dua dan beroda empat berupa : Sepeda motor, Taksi, Bis, dan Transportasi darat lainnya. Karena berdasarkan aksesibilitas menuju tempat atraksi wisata yang berlokasikan di pantai seger Lombok tengah yang sudah memadai dan dapat dijangkau oleh para wisatawan.adapun karena akses menuju objek wisata khususnya atraksi budaya baunyale sudah dikemas oleh pemerintah dengan baik sehingga strategis.
AKOMODASI
Di tempat objek wisata ada beberapa akomodasi yang dapat di jangkau oleh wisatawan ketika dalamsedang melakukan perjalanan wisata atau berkunjung ketempat wisat tersebut (Objek wisata pantai seger sebagai tempat atraksi budaya baunyale) Contoh akomodasi yang paling strategis adalah Novotel karena berjarak tidak jauh dari lokasi cukup dengan berjalan kaki wisatawan dapat menempu perjalanannya.
KOMSUMSI
Adapun konsumsi yang didapatkan oleh wisatawan melainkan makanan khas pulau Lombok tersebut seperti dalam bidang jasa restoran kafe dsb yang sudah disediakan, karena atraksi baunyale dimana dapat diartikan menurut KBBI ‘Bau’ yang artinya menangkap dan ‘nyali’ adalah sebuah hewan cacing laut yang juga sebagai makanan khas tiap tahun masyarakat setempat sehingga wisatawan pun dapat mengkomsumsi makanan tersebut dimana yang sudah tersedia di jasa jasa makanan dan minuman seperti Restoran kafe, dan jasa lainnya.

No comments:

Post a Comment